Senin, 13 Juni 2011

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Bahasa Indonesia

LAPORAN
PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)
PENGGUNAAN METODE MEMBACA DAN BUZZ GROUP
UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA
DALAM MENULISKAN RANGKUMAN SUATU CERITA PADA
PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI KELAS IV SD


 








Disusun Oleh
NURUL HIDAYATUL UMMAH
NIM: 58410362

Fakultas Tarbiyah/Jurusan PAI/Semester VI

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI
CIREBON
2011

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul “Penggunaan Metode Membaca dan Buzz Group Untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa Dalam Menuliskan Rangkuman Suatu Cerit Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas IV SDN 2 Klayan”. Penelitian ini berangkat dari latar belakang perlunya peran guru sebagai pelaksana pendidikan secara formal mempunyai tanggung jawab yang cukup berat. Peran guru sangat dituntut fleksibilitas dalam menerapkan strategi konsep model pembelajaran yang akan disampaikan kepada pederta didik selama proses pembelajaran. Tentunya agar tercapai tujuan pembelajaran yang diharapkan oleh guru, dengan demikian guru harus pandai menggunakan metode-metode pembelajaran yang disesuaikan dengan materi pembelajaran.
Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar pada intinya mencakup hakekat bahasa dan belajar bahasa dan bagaimana cara menerapkan pembelajaran bahasa tersebut. Dengan kurangnya keatifitas guru dalam menggunakan metode pembelajaran untuk materi Bahasa Indonesia sangat mempengaruhi minat anak terhadap pelajaran Bahasa Indonesia. Kurangnya kegiatan membaca di Sekolah dan di rumah membuat anak kurang berminat terhadap pelajaran Bahasa Indonesia yang berisi tentang cerita-cerita. Hal ini menjadi tanggung jawab guru untuk menarik minat siswa terhadap pelajaran Bahasa Indonesia.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mendapatkan data dan analisa melalui kajian-kajian reflektif, partisipasi dan kolaboratif. Data tersebut diperolaeh dari hasil observasi guru terhadap siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, dengan menggunakan metode ceramah, Tanya jawab, penugasan, Buzz Group dan diskusi.
Untuk meningkatkan minat siswa terhadap mata pelajaran Bahasa Indonesia dalam membaca dan menyimak cerita atau dongeng dan merangkum, maka dip[erlukan suatu penelitian tindakan kelas. Penelitian dilakukan di Kelas IV SDN 2 Klayan dengan metode Buzz Group denga 2 siklus. Pada siklus pertama hasilnya kurang memuaskan dengan menggunakan metode ceramah dan penugasan, karena pemahaman siswa terrhadap materi pelajaran Bahasa Indonesia tentang menulis ringkasan cerita masuh rendah, begitu pula dengan nilai yang diperoleh siswa kurang standar keberhasilannya. Disamping itu juga guru-guru kurang bervariatif dalam memilih metode pembelajaran. Tetapi pada siklus ke 2 guru mengambil langkah dengan menambah beberapa metode yang semula metode ceramah dan penugasan, ditambah dengan metode mebaca Buzz Group, Tanya  jawab dan demonstrasi, dengan melakukan perbaikan pada siklus 2 dapat diperoleh hasilnya lebih berhasil. Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi guru pada siswa dengan nilai rata-rata pada siklus 1 adalah ( 59,44 ) atau 59 %. Dengan mengadakan perbaikan-perbaikan pada siklus 2 nilai rata-rata siswa ( 79,44 ) atau 79 %. Dari hal pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) dapat dilihat bahwa penggunaan metode membaca dan Buzz Group dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dapat meningkatkan minat siswa dalam membaca cerita dan merangkum suatu cerita di Kelas IV SDN 2 Klayan.


KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penusunan Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini. Shalawat sertasalam semoga tetap tercurahlimpahkan kepada Nabi Muhammad saw, keluarganya, para sahabatnya serta umatnya hingga akhir zaman. Amiiiinn.
Penelitian yang berjudul “Penggunaan Metode Membaca dan Buzz Group Untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa dalam Menuliskan Rangkuman Suatu Cerita Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Di Kelas IV SD” ini disusun untuk memenuhi tugas mandiri pada Mata Kuliah Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Dalam penyusunan Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini, tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak yang berupa pengetahuan, motivasi.Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih, kepada:
1.    Bapak Ahmad Ripa’I, M.Pd selaku Dosen Pengampu Mata Kuliah Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
2.    Ibu Trisna Asih, A.Ma. Pd. selaku Kepala SDN 2 Klayan.
3.    Ibu Herawati, S.Pd selaku teman sejawat.
4.    Semua pihak yang telah membantu penyusunan Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Menyadari akan keterbatasan ilmu pengetahuan yang penulis miliki, maka apabila terdaapat kekurangan dalam penulisan Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Untuk itu, penulis senantiasa terbuka dalam menerima saran dan kritikan yang bersifat konstruktif demi menjadi lebih sempurnanya Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini.
Akhirnya, penulis berharap kepada Allah Yang Maha Mengetahui segalanya, semoga Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dapat bermanfaat bagi masyarakat akademik dan bermanfaat pula untuk usaha pembangunan dan rekonstruksi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia yang bersifat progress di masa yang akan dating. Amin Yaa Rabbal ‘Alamin.

Cirebon, 24 Mei 2011

         Penulis

DAFTAR ISI

ABSTRAK          .........................................................................................            i
KATA PENGANTAR ...............................................................................          iii
DAFTAR ISI  .............................................................................................           v

BAB I              PENDAHUALUAN  .........................................................           1
A.    Latar Belakang Masalah   ..............................................           1
B.     Identifikasi Msalah .......................................................           2
C.     Rumusan Masalah  ........................................................           2
D.    Jenis Tindakan ( Cara Memecahkan Masalah )  ............           3
E.     Hipotesis Tindakan .......................................................           3
F.      Tujuan Penelitian  ..........................................................           3
G.    Indikator ( Kriteria Keberhasilan Tindakan )  ...............           4
H.    Manfaat ( Keguanaan Penelitian )  ................................           4
BAB II             KAJIAN TEORI ...............................................................           5
A.    Hakikat Belajar dan Pembelajaran  ...............................           5
B.     Hakikat Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD  ...........           9
C.     Alat Peraga   ..................................................................         10
D.    Metode Pembelajaran Buzz Group  ..............................         12
BAB III           METODOLOGO PENELITIAN ....................................         16
A.    Setting Penelitian  .........................................................         16
B.     Persiapan Penelitian Tindakan Kelas ( PTK )  ..............         17
C.     Subjek Penelitian  ..........................................................         18
D.    Sumber Data         .........................................................         18
E.     Teknik dan Alat Pengumpulan Data  ............................         18
F.      Indikator Kinerja   .........................................................         20
G.    Analisis Data  ................................................................         20
H.    Prosedur Penelitian  ......................................................         20
1.      Rencana Penelitian   ................................................         20
2.      Pelaksanaan Penelitian   ..........................................         21
3.      Pengamatan/Pengumpulan Data/Instrumen  ...........         21
4.      Refleksi  ..................................................................         23
BAB IV           HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...............        24
I.       Hasil Penelitian .............................................................         24
A.    Deskripsi Per Siklus  ...............................................         24
B.     Data Hasil Perbaikan ..............................................         25
C.     Data Hasil Refleksi   ...............................................         28
II. Pembahasan. ..................................................................         29
BAB V             KESIMPULAN DAN SARAN .........................................        31
A.    Kesimpulan ...................................................................         31
B.     Saran Tindak Lanjut. .....................................................         31
DAFTAR PUSTAKA                                                                                
LAMPIRAN



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang Masalah
Mengajar pada hakikatnya adalah suatu proses, yaitu proses mengatur, proses memberikan, bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam melakukan proses belajar.
Dari pernyataan tersebut kita mengerti bahwa dalam kegiatan mengajar, untuk mencapai hasil dan tujuan yang diinginkan, tanggung jawab hanya di bebankan pada guru. Bagaimana guru harus mengatur dan mengelola kelas dan memilih metode yang relevan dengan bahan ajar namun tanggung jawab tersebut juga harus di bebankan kepada siswa. Para siswa harus punya keaktifan dan motivasi yang tinggi untuk belajar, begitu dilakukan baik didalam kelas maupun diluar kelas sehingga bisa tercerminkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sering kita mendengar guru-guru yang menyatakan keluhan-keluhan tentang pengajaran materi Bahasa Indonesia seakan tidak ada gunanya, hal ini dikarenakan adanya faktor kemalasan dari siswa itu sendiri yang menganggap materi Bahasa Indonesia itu membosankan dan sulit. Berdasarkan fenomena diatas sebagai gambaran problema yang memperoleh keaktifan dan efisien pembelajaran materi Bahasa Indonesia, maka disini penulis tertarik untuk mengangkat judul “PENGGUNAAN METODE MEMBACA DAN BUZZ GROUP UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA DALAM MENULISKAN RANGKUMAN SUATU CERITA PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI KELAS V SD”
B.     Identifikasi Masalah
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, siswa banyak sekali menemukan kesulitan. Ini terbukti dari kurangnya tingkat kemampuan penguasaan materi melalui beberapa kali ulangan, baik secara lisan maupun tertulis.
Dari hasil identifikasi, penulis menemukan beberapa masalah antara lain:
a.    Kurangnya minat belajar siswa terhadap mata pelajaran Bahasa Indonesia, karena mereka beranggapan pelajaran Bahasa Indonesia membosankan dan cukup sulit khususnya dalam merangkum suatu cerita.
b.   Kurangnya kegiatan membaca baik di sekolah maupun di rumah.
c.    Kurangnya pelajaran menyimak cerita atau dongeng.
C. Rumusan Masalah
Dari hasil pengamatan, diduga bahwa kurangnya kegiatan membaca dan pelajaran menyimak cerita di sekolah sehingga menyebabkan minat belajat siswa terhadap mata pelajaran Bahasa Indonesia sangat rendah. Berdasarkan pembatasan masalah diatas, penulis merumuskan masalah dalam bentuk pertanyaan di bawah ini:
Apakah penggunaan metode membaca dan buzz group dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menuliskan rangkuman suatu cerita pada pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas IV?
D.    Jenis Tindakan (Cara Memecahkan Masalah)
Jenis tindakan yang dilakukan dalam hal ini adalah penggunaan metode membaca dan buzz group. Metode ini dipilih karena diharapkan siswa mampu menyampaikan pendapatnya mengenai satu topik cerita dan dengan menggunakan metode membaca ini, siswa diharapkan mampu mengembangkan keterampilan membaca sesuai dengan EYD.
E.     Hipotesis Tindakan
Hipotesis adalah rangkuman dari kesimpulan-kesimpulan teoritis yang diperoleh dari pengkaji pustaka. Menurut arti yang sebenarnya hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul. Jika diterapkan Metode membaca dan buzz group di kelas IV dapat melibatkan siswa aktif, mengembangkan kreatifitas, tanggung jawab, kedisiplinan serta dapat memotivasi belajar siswa.
F.     Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada permasalahan yang ada, maka penelitian ini bertujuan untuk:
a.    Mengetahui kemampuan siswa dalam menulis ringkasan cerita dalam beberapa kalimat dengan cara memahami dan mencari pokok pikiran tiap paragraph.
b.   Siswa menjadi gemar membaca cerita atau dongeng
c.    Minat belajar siswa meningkat pada mata pelajaran Bahasa Indonesia.
G.    Indikator (Kriteria Keberhasilan Tindakan)
a.    Siswa mampu menulis ringkasan cerita dalam beberapa kalimat
b.    Siswa mampu menanamkan hobi membaca dalam dirinya
c.    Siswa mampu meningkatkan minat belajar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia
H.      Manfaat  (Kegunaan Penelitian)
Manfaat yang diperoleh setelah melaksanakan perbaikan diantaranya sebagai berikut:
a.    Siswa dapat meringkas cerita dalam beberapa kalimat
b.   Siswa memiliki keberanian dalam bertanya
c.    Siswa menjadi gemar membaca.
d.   Melalui penggunaan metode membaca dan buzz group, siswa tidak lagi menganggap mata pelajaran Bahasa Indonesia itu sulit dan membosankan, sehingga kini minat belajar siswa meningkat.


BAB II
KAJIAN TEORI
A.  Hakikat Belajar dan Pembelajaran
Sebelum membahas masalah prinsip belajar dan pembelajaran sangat penting jika kita membahas konsep belajar terlebih dahulu. Apakah belajar itu?. Menurut Gagne belajar didefinisikan sebagai suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya akibat suatu pengalaman. Galloway mengatakan belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi dan faktor-faktor lain berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya.[1]
Moh. Surya : “Belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan,sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya.”
Witherington : “Belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanesfatesikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan.”
Menurut Crow, Belajar adalah “diperolehnya kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru. Sedang Hilgard : “Belajar adalah proses dimana suatu perilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap suatu situasi.
Gagne & Berliner: “Belajar adalah proses perubahan perilaku yang muncul karena pengalaman.[2]
Berbicara tentang belajar, pada dasarnya berbicara tentang bagaimana tingkah laku seseorng berubah sebagai akibat pengalaman. Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa, agar terjadinya proses belajar atau terjadinya perubahan tingkah laku sebelum kegiatan belajar mengajar di kelas, seorang guru perlu menyiapkan atau merencanakan berbagai pengalaman belajar yang akan diberikan kepada siswa dan pengalaman belajar tersebut harus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Istilah pembelajaran berhubungan erat dengan pengertian belajar dan mengajar. Belajar mengajar dan pembelajaran terjadi bersama-sama. Belajar dapat terjadi tanpa adanya seorang guru atau tanpa kegiatan mengajar dan pembelajaran secara formal. Sedangkan mengajar meliputi segala hal yang guru lakukan di dalam kelas Duffy dan Roehler mengatakan apa yang dilakukan guru agar proses belajar mengajar berjalan lancar, bermoral dan membuat siswa merasa nyaman merupakan bagian dari aktifitas mengajar dan juga secara khusus mencoba dan berusaha untuk mengimplementasikan kurikulum dalam kelas. Sementara itu, yang dinamakan pembelajaran adalah suatu usaha yang sengaja melibatkan dan menggunakan pengetahuan professional yang dimiliki guru untuk mencapai tujuan kurikulum. Jadi pembelajaran adalah suatu aktifitas yang dengan sengaja untuk memodifikasi berbagai kondisi yang diarahkan guna tercapainya suatu tujuan, yaitu tujuan tercapainya tujuan kurikulum. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik dikenal dengan istilah kompetensi. Peserta didik yang kompeten mengandung arti bahwa peserta didik telah memahami, memaknai dan memanfaatkan materi pelajaran yang telah dipelajarinya. Dengan kata lain, peserta didik telah dapat melakukan sesuatu berdasarkan ilmu yang telah dimilikinya, yang pada tahap selanjutnya menjadi kecakapan hidup (life skill).
Dalam ilmu pendidikan belajar pada intinya adalah usaha untuk mewujudkan perubahan tingkah laku. Tingkah laku kan berubah jika mempelajari sesuatu yang belum pernah diketahui sebelumnya, kemudian mengetahui, paham dan mampu menerapkannya. Perubahan tingkah laku ini yang akan menentukan masa depan setiap orang yang belajar. Inilah hakikat pembelajaran pada intinya, yakni membekali peserta didik untuk dapat hidup mandiri kelak setelah ia dewasa “tanpa tergantung pada orang lain”, karena ia telah memiliki kompetensi kecakapan hidup.
Seorang yang belajar dengan sungguh-sungguh perubahan perilakunya akan terwujud. Menurut Moh. Surya ciri-ciri dari perubahan perilaku, diantaranya adalah:[3]
1.    Perubahan yang Disadari dan Disengaja (Intensional)
Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang bersangkutan. Begitu juga dengan hasil-hasuilnya, individu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan.
2.    Perubahan yang Berkesinambungan (Kontinyu)
Bertambahnya pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. Begitu juga pengetahuan, sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan berikutnya.
3.    Perubahan yang Konvensional
Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan, baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa yang akan datang.
4.    Perubahan yang Bersifat Positif
Perubahan perilaku yang terjadi bersifat normative dan menunjukkan ke arah kemajuan.
5.    Perubahan yang Bersifat Aktif
Untuk memperoleh perilaku baru, individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan.

6.    Perubahan yang Bersifat Permanen
Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya.
7.    Perubahan yang Bertujuan dan Terarah
Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang hendak dicapai, baik tujuan jangka pendek, jangka menengah dan tujuan jangka panjang.
8.    Perubahan Perilaku Secara Keseluruhan
Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata, tetapi termasuk memperoleh perubahan dalam sikap dan keterampilan.
B.  Hakikat Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar (SD)
Manusia merupakan makhluk yang perlu berinteraksi dengan manusia lainnya. Interaksi terasa semakin penting pada saat manusia membutuhkan eksistensinya diakui. Kegiatan ini membutuhkan alat, sarana prasarana dan media yaitu bahasa. Dan sejak saat itulah bahasa menjadi alat, sarana dan media.
Bahasa dalam Bahasa Inggris disebut Language berasal dari bahasa latin yang berarti “Lidah”. Secara universal pengertian bahasa ialah suatu bentuk ungkapan yang bentuk dasarnya ujaran. Ujaran inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Ujaran manusia itu menjadi bahasa apabila dua orang manusia atau lebih menetapkan bahwa seperangkat bunyi itu memiliki arti yang serupa.
Bahasa merupakan alat komunikasi yang mengandung beberapa sifat yakni, sistematik, mana suka, ujar, manusiawi dan komunikatif. Disebut sistematik karena bahasa diatur oleh suatu sistem, disebut mana suka karena unsur-unsur bahasa dipilih secara acak tanpa dasar. Disebut ujar karena media bahasa yang terpenting adalah bunyi walaupun kemudian ditemui ada juga media tulisan.[4]
Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar (SD) pada intinya adalah mencakup hakikat bahsa dan belajar bahasa, kebahasaan, keterampilan berbahasa, sastra anak dan berbagai pendekatan pembelajaran bahasa serta bagaimana cara menerapkan pembelajaran tersebut di Sekolah Dasar (SD).
C.  Alat Peraga
Media Pengajaran sebagai perantara dalam rangka memperlancar pencapaiantujuan dari pelaksannan pendidikan di sekolah. Media pembelajaran harus yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya. Penggunaan media secara kreatif akan memungkinkan siswa untuk belajar lebih baik dan dapat meningkatkan performan mereka sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Media pengajaran yang digunakan berupa peralatan yang efektif yaitu alat peraga. Alat peraga adalah alat (benda) yang digunakan untuk memperagakan fakta, konsep prinsip atau prosedur tertentu agar tampak lebih nyata dan konkrit. Tanpa alat sukar rasanya untuk mencapai tujuan yang diinginkan disuatu lembaga pendidikan. Dalam kegiatan interaksi edukatif biasanya dipergunakan alat nonmaterial dan material. Alat nonmaterial berupa suruhan, perintah, larangan, nasihat dan sebagainya. Sedangkan alat material atau alat bantu pengajaran berupa globe, papan tulis, batu kapur, gambar, diagram, lukisan, slide, video dan sebagainya.
Alat peraga adalah alat untuk memperagakan atau membantu pembelajaran sehingga lebih memperjelas fakta, konsep, prinsip atau prosedur tertentu agar tampak lebih nyata. Alat peraga pada hakikatnya hanya merupakan suatu alat yang berfungsi untuk menvisualisasikan konsep tertentu saja mengenai penggunaan alat peraga ini dilakukan sepenuhnya oleh guru. Berhasil tidaknya proses pembelajaran bukan tergantung pada alat peraga, karena sebagus dan sehebat apapun alat peraga yang digunakan, namun jika guru tidak dapat menggunkannya seefektif mungkin maka tujuan yang hendak dicapai tidak akan terlaksana. Jadi semuanya tergantung pada keterampilan guru dalam mengolah alat peraga yang akan digunakan.[5]
Dari uraian diatas, dapat dilihat bahwa penggunaan alat peraga, keterampilan guru memberikan pengaruh terhadap hasil belajar siswa. Sehinnga diharapkan dapat mengatasi masalah prestasi belajar yang masih rendah khususnya hasil belajar Bahasa Indonesia.


D.  Metode Pembelajaran Buzz Group
Metode merupakan suatu alat atau cara dalam menyampaikan bahan pelajaran kepada siswa dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai. Menurut Winarso Surachmat yang dikemukakan dalam Buku Dasar dan Teknik Belajar Mengajar, bahwa: “Metode adalah cara dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan.”
Selanjutanya Sudirjo mengemukakan bahwa: “Metode Mengajar adalah cara yang dipergunakan guru dalam menyajikan bahan pelajaran dengan memperhatikan keseluruhan situasi belajar untuk mencapai tujuan.”[6]
Dari kedua pendapat diatas jelas bahwa metode merupakan cara yang dipergunakan guru dalam proses belajar mengajar, dimana setiap guru akan menggunakan metode tertentu dalam menyajikan bahan pelajaran kepada siswanya. Hal ini akan memudahkan dalam mencapai tujuan yang diharapkan.
Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang telah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai yujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya:
a.    Metode Membaca: Cara pembahasan suatu permasalahan melalui diskusi dengan mengawali kegiatan dengan membaca terlebih dahulu.
b.    Metode buzz group: Cara pembahasan suatu permasalahan yang pelaksanaannya para siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok antara tiga sampai enam orang membahas suatu masalah yang diakhiri dengan penyampaian hasil diskusi oleh setiap juru bicara .
Menurut Ari Site teknik kelompok buzz ini adalah kelompok diskusi dimana siswa dibagi dalam 4-5 orang siswa untuk mendiskusikan suatu topik terlepas dari fasilitator. Tempat duduk diatur sedemikian rupa sehingga siswa dapat bertatap muka. Teknik memberikan kesempatan kepada individu-individu untuk menguji dan memperdalam pemikiran-pemikirannya atau mempertajam suatu upaya pemecahan masalah dan mendapatkan kepercayaan dirinya sendiri.
Teknik kelompok buzz digunakan dalam kegiatan pembelajaran pemecahan masalah yang didalamnya mengandung bagian-bagian khusus dalam masalah itu.
Kegiatan belajar biasanya dilakukan melalui diskusi didalam kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota 4-5 orang. Kelompok-kelompok kecil itu melakukan kegiatan diskusi dalam waktu yang telah ditentukan tentang bagian- bagian khusus dari masalah-masalah yang dihadapi oleh kelompok besar.
Pemilihan anggota kelompok kecil bisa dilakukan oleh siswa sendiri dan ditunjuk oleh guru, tetapi dalam hal ini gurulah yang memilih anggota kelompoknya karena guru lebih tahu yang mana siswa yang pintar. Atau dapat dikatakan bahwa pemilihan kelompok adalah heterogen. Teknik ini tepat digunakan apabila peserta didik dalam suatu kelompok terlalu banyak sehingga setiap orang tidak mempunyai kesempatan berpartisipasi.
Selain hal diatas, teknik ini tepat digunakan :[7]
Ø apabila masalah itu mengandung beberapa aspek atau bagian yang perlu dibahas secara khusus
Ø apabila waktu yang tersedia untuk membahas masalah itu terbatas
Ø apabila terdapat peserta didik yang lamban dan kurang berminat untuk berpartisipasi
Menurut Prof. Sudjana teknik kelompok buzz ini memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan-kelebihan yang dimaksud adalah sebagai berikut :[8]
Ø Peserta didik yang kurang biasa menyampaikan pendapat dalam kelompok belajar seolah-seolah dipaksa oleh situasi untuk berbicara dalam kelompok kecil.
Ø Menumbuhkan suasana yang akrab, penuh perhatian terhadap pendapat orang lain, dan mungkin akan menyenangkan.
Ø Dapat menghimpun berbagai pendapat tentang bagian – bagian maslah dalam waktu singkat.
Ø Dapat digunakan bersama teknik lain sehingga penggunaan teknik ini bervariasi
Sedangkan kelemahan dari teknik adalah sebagai berikut:
Ø Mungkin terjadi pengelompokan yang pesertanya terdiri atas orang-orang yang tidak tahu apa-apa, apabila yang memilih anggota kelompok adalah siswa itu sendiri, sehingga kekuatan kelompok tidak seimbang.
Ø Laporan kelompok-kelompok kecil tidak tersusun secara sistematis dan tidak terarah.
Ø Pembicaraan mungkin dapat berbelit-belit.
Ø Membutuhkan waktu untuk mempersiapkan masalah dan untuk bagian-bagian dari masalah itu








BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.  Setting Penelitian
Setting dalam penelitian ini, meliputi: tempat penelitian, waktu penelitian dan siklus PTK sebagai berikut:
1.    Tempat Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan di SDN Klayan 02 Kec. Gunungjati Kab. Cirebon untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Sebagai subjek dalam penelitian ini adalah siswa siswi kelas IV dengan jumlah murid sebanyak 36 orang, terdiri dari 16 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan.
Pemilihan sekolah ini bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan proses pembelajaran di almamater sekolah ini karena dulu saya mendapatkan banyak ilmu dari ibu bapak guru di sekolah ini, sehingga saya menjadi seperti saat ini.
2.    Waktu Penelitian
Waktu penelitian ini disesuaikan dengan jadwal pelajaran di sekolah. Adapun hari dan tanggal pelaksanaannya sebagai berikut:


No
Hari, Tanggal
Mata Pelajaran
Siklus Ke
Jam Pelajaran
1
Senin, 16 Mei 2011
Bahasa Indonesia
1
3 dan 4
2
Sabtu, 21 Mei 2011
Bahasa Indonesia
2
1 dan 2

3.    Siklus Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan melalui dua siklus untuk melihat peningkatan hasil belajar dan aktifitas siswa dalam mengikuti mata pelajaran Bahasa Indonesia melalui pembelajaran dengan menggunakan metode membaca dan buzz group.
B.  Persiapan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Sebelum Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan dibuat berbagai input instrumental yang akan digunakan untuk member perlakuan dalam PTK, yaitu rencana pembelajaran yang akan dijadikan PTK, yakni: Kompetensi Dasar (KD): (1) Memahami cerita tentang peristiwa, (2) Menanggapi suatu cerita.
Selain itu juga akan dibuat perangkat pembelajaran yang berupa (1) Lembar Kerja Siswa; (2) Lembar Kerja Kelompok; (3) Lembar Pengamatan. Dalam hal ini juga akan disusun daftar nama kelompok.


C.  Subjek Penelitian
Dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini yang dijadikan subjek penelitian ini adalah siswa Kelas IV, yang terdiri dari 36 siswa dengan rincian Laki-Laki sebanyak 16 siswa dan Perempuan sebanyak 20 siswa.
D.      Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari beberapa sumber, yakni:
1.    Siswa
Untuk mendapatkan data tentang hasil belajar dan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar.
2.    Guru
Untuk melihat tingkat keberhasilan implementasi pembelajaran model membaca dan buzz group dan hasil belajar serta aktivitas siswa dalam proses pembelajaran.
3.    Teman Sejawat
Teman Sejawat dimaksudkan sebagai sumber data untuk melihat implementasi PTK secara komprehensip, baik dari sisi siswa maupun guru.
E.  Teknik dan Alat Pengumpulan Data
1.    Teknik
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah; tes, observasi, wawancara dan diskusi.
Ø Tes, dipergunakan untuk mendapatkan data tentang hasil belajar siswa.
Ø Observasi, dipergunakan untuk mengumpulkan data tentang partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar.
Ø Wawancara, dipergunakan untuk mendapatkan data tentang tingkat keberhasilan implementasi pembelajaran model membaca dan buzz group.
Ø Diskusi antara guru dan teman sejawat.
2.    Alat Pengumpulan Data
Alat pengumpulan data dalam PTK ini meliputi tes, observasi, wawancara, kuesioner dan diskusi. Berikut akan dijelaskan satu persatu:
Ø Tes, menggunakan butir soal untuk mengukur hasil belajar siswa.
Ø Observasi, menggunakan lembar observasi untuk mengukur tingkat partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar.
Ø Wawancar, menggunakan panduan wawancara untuk mengetahui pendapat atau sikap siswa dan teman sejawat tentang pembelajaran dengan menggunakan metode membaca dan buzz group.
Ø Kuesioner, untuk mengetahui pendapat atau sikap siswa dan teman sejawat tentang pembelajaran dengan menggunakan metode membaca dan buzz group.
Ø Diskusi, menggunakan lembar pengamatan.
F.   Indikator Kinerja
Dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini yang akan dilihat indikator kinerjanya selain siswa adalah guru, karena guru merupakan fasilitator yang sangat berpengaruh terhadap kinerja siswa.
1.    Siswa
Ø Tes                   : rata-rata nilai ulangan.
Ø Observasi        : keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia.
2.    Guru
Ø Dokumentasi: kehadiran siswa.
Ø Observasi: hasil observasi.
G.  Analisis Data
Data yang dikumpulkan pada setiap kegiatan observasi dari pelaksanaan siklus penelitian dianalisis secara deskriptif.
H.  Prosedur Penelitian
1.    Rencana Penelitian
Rencana penelitian yang akan dilakukan guru pada mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah:
Ø Menggunakan metode Membaca dan Buzz Group pada siklus 2.
Ø Dibentuk menjadi 6 kelompok untuk berdiskusi membahas cerita yang akan dijelaskan.
2.    Pelaksanaan Penelitian
Pertama menentukan pembahasan apa yang akan dijadikan bahan untuk perbaikan pembelajaran. Kemudian membuat dan melaksanakan rencana pembelajarn, dianalisis dan dirumuskan permasalahannya dibantu dengan teman sejawat. Lalu dilanjutkan pada RPP siklus 1 yang dilaksanakan pada hari Senin tanggal 16 Mei 2011 dengan hasil yang kurang memuaskan dan RPP siklus 2 yang dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 21 Mei 2011, siswa mendapatkan hasil yang maksimal. Tindakan perbaikan dimunculkan secara khusus pada keaktifan siswa dalam proses pembelajaran dan pengembangan metode pembelajaran yang semula hanya Ceramah dan Penugasan saja dikembangkan lahi dengan metode Membaca, Buzz Group dan Tanya Jawab.
3.    Pengamatan / Pengumpulan data / Instrumen
Tabel Pencapaian Nilai yang Diperoleh Siswa pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Siklus
Nilai yang Diperoleh Siswa
40
50
60
70
80
90
100
1
11
-
15
-
10
-
-
2
-
-
11
-
15
-
10



 






Grafik Skilus 1


 







Grafik Siklus 2

Tabel Pencapaian Nilai Hasil Kerja Kelompok yang Diperoleh Siswa pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Siklus
Nilai yang Diperoleh Kelompok


60
65
70
75
80
85
1
2 Kel.
1 Kel.
1 Kel.
1 Kel.
-
-
2
-
-
2 Kel.
2 Kel.
1 Kel.
1 Kel.

4.    Refleksi
Setelah menyelesaikan satu proses pembelajaran dan dianalisis serta dirumuskan dengan teman sejawat ditemui beberapa masalah pada pembelajaran siklus 1, yakni pemahaman siswa terhadap materi Bahasa Indonesia tentang menulis ringkasan cerita dalam beberapa kalimat masih rendah. Begitu pula dengan nilai yang diperoleh siswa kurang dari standar keberhasilan. Rencana untuk memperbaiki proses pembelajaran akan dilaksanakan pada siklus 2.
Rencana Perbaikan Pembelajaran pada siklus 2 adalah perbaikan terhadap pembelajaran siklus 1. Guru mengambil langkah dengan mengubah metode pembelajarannya, yang semula hanya Metode Ceramah dan Penugasan lalu ditambahkan lagi dengan Metode Membaca, Buzz Group, Tanya Jawab dan Demonstrasi. Setelah melakukan perbaikan diperoleh hasil yang lebih maksimal pada siklus 2. Siswa mendapat hasil minimal 70% ke atas.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
I.     Hasil Penelitian
A.      Deskripsi Per Siklus
Siklus 1
Dilaksanakan pada hari Senin tanggal 16 Mei 2011. Kegiatan belajar mengajar dimulai dari guru membacakan sebuah cerita lalu siswa menyimak. Dilanjutkan dengan guru menjelaskan materi pelajaran dan siswa diberi tugas. Metode yang digunakan pun terbatas hanya pada ceramah dan pemberian tugas dibantu dengan teks bacaan cerita. Akhirnya, nilai rata-rata yang diperoleh pada siklus 1 kurang memuaskan hanya mencapai 59,44.
Siklus 2
Dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 21 Mei 2011. Kegiatan belajar mengajar di siklus 2 banyak melibatkan siswa sehingga siswa lebih aktif di dalam kelas. Metode yang digunakan pun bertambah dengan menggunakan Metode Membaca dan Buzz Group. Dengan menggunakan metode ini terbukti siswa lebih memahami materi pelajaran dan nilai rata-rata pada siklus 2 mengalami peningkatan menjadi 79,44.


B.       Data Hasil Perbaikan
Berikut ini data hasil penilaian terhadap 36 siswa selama pembelajaran dari siklus 1 sampai siklus 2 pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia.
TABEL 1
Hasil Penilaian Siswa Menyelesaikan Soal Pertanyaan Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Siklus 1 dan 2
No
Nama Siswa
Nilai
Ket.
Siklus 1
Siklus 2
1
Adelita Tristiyanti
60
80

2
Alfita
60
100

3
Alfiya Damayanti
60
80

4
Dia Tri Rahayu
60
80

5
Dimas Prasetyo
40
60

6
Eva Fitriani
80
80

7
Fatur Ridzky
60
80

8
Fina Indriyani
40
60

9
Hanan Yuliana
80
100

10
Lucki Setiawan
60
80

11
Lulu Luthfitriani
80
100

12
Lutfi Arofi
40
60

13
Maulauna Yusuf Nurul Yaqin
80
100

14
Meyviani Fandya Ningrum
40
60

15
Muhammad Ikhsan Safe’i
80
100

16
Muhammad Irvan Aldyansyah
40
60

17
Muhammad Rafi Maulana
80
100

18
Muhammad Ramdani
40
60

19
Nur Farhan Waqi
80
100

20
Nurul Auliyya Khusaeri
60
80

21
Raihan Fakhtur Ikrom
40
60

22
Rahman Nur Arif
60
80

23
Ranti Agnesta
40
60

24
Rayhan Mahfudz Jaballah
80
100

25
Reza Fauzan
40
60

26
Risma Ashali Fauziah
60
80

27
Rizal Fadillah
60
80

28
Rizky Aprilian
60
80

29
Santika Windy Massie
60
80

30
Selly Piarezsinka
80
100

31
Syaharani Syafira
80
100

32
Viana
60
80

33
Vira Merlinda
60
80

34
Willyan Adjie Putra
40
60

35
Yuli Yanti
40
60

36
Yuna Alifah
60
80

Jumlah
2140
2860

Rata - Rata
59,44
79,44








TABEL 2
Pencapaian Nilai yang Diperoleh Siswa
No
Nilai yang Diperoleh
Hasil Setiap Siklus
Prosentase Setiap Siklus

1
2
1
2
1
100
-
10
-
27,78 %
2
90
-
-
-
-
3
80
10
15
27,78 %
41,67 %
4
70
-
-
-
-
5
60
15
11
41,67 %
30,55 %
6
50
-
-
-
-
7
40
11
-
30,55 %
-
8
30
-
-
-
-
9
20
-
-
-
-
10
10
-
-
-
-
Jumlah
36
36
100%
100%
TABEL 3
Hasil Penilaian Siswa Menyelesaikan Tugas Kelompok Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Siklus 1 dan 2
No
Kelompok
Nilai
Ket.

Siklus 1
Siklus 2
1
Mawar
70
80

2
Melati
75
85

3
Anggrek
65
70

4
Tulip
60
75

5
Matahari
70
75

6
Sepatu
60
70

Jumlah
400
455

Rata - Rata
66, 66
75,84











C.  Data hasil Refleksi
Ø Nilai rata-rata pada siklus 1 adalah 59,44 sedangkan nilai rata-rata pada siklus 2 79,44.
Ø Siswa memperoleh hasil belajar tuntas (diatas 60) pada siklus 1 ada 10 siswa, sedangkan siswa memperoleh hasil belajar tuntas (diatas 60) pada siklus 2 ada 25 siswa.
Ø Tingkat pencapaian tujuan pembelajaran pada siklus 1 adalah 59% sedangkan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran pada siklus 2 adalah 79%.
Ø Sedangkan untuk hasil kerja kelompok, pada siklus 1 nilai rata-rata yang diperoleh adalah 66,66 dan pada siklus 2 nilai rata-rata yang diperoleh adalah 75,84.
II. Pembahasan
Berdasarkan hasil perbaikan pembelajaran di kelas aktifitas siswa cenderung meningkat dan nilai rata-rata pun meningkat dari setiap siklus dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Dari temuan data pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia ada peningkatan mulai dari siklus 1 yang semula nilai rata-rata 59,44 naik menjadi 76,44 pada siklus 2.
Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan belajar mengajar proses pembelajaran yang demokrasi dan komunikatif antara guru dan siswa. Semangat untuk belajar dan berlatih yang ditampilkan siswa merupakan akibat dari apa yang penulis lakukan dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran.
Keaktifan siswa pada pembelajaran Bahasa Indonesia dapat diamati sudah pada waktu guru melaksanakan Tanya jawab dengan bahasa yang komunikatif dan penggunaan metode membaca serta buzz group, menerapkan demokratis dan selalu memberikan penguatan pada saat setiap jawaban atau penyelesaian siswa.
Penulis menyadari kurangnya partisipasi dan perhatian siswa dalam proses pembelajaran dan pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan bukan semata-mata karena kekurangan siswa tetapi sikap guru pun sebagai fasilitator yang kurang empatik, terbuka dan kurang mampu menghidupkan suasana dalam pembelajaran. Perubahan yang terjadi dalam proses dan hasil pembelajaran sebenarnya berpengaruh dari upaya guru untuk melaksanakan prosedur pembelajaran yang benar.
Langkah-langkah pembelajaran yang disusun dalam rencana pembelajaran merupakan gambaran yang jelas dari scenario pembelajaran yang akan dilaksanakan di kelas. Tingkat keberhasilannya tergantung kepada kemampuan guru untuk mengaplikasikan rencana tersebut dalam kegiatan pembelajaran di kelas.







BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.      Kesimpulan
Setelah melalui perbaikan pembelajaran pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia yang dilaksanakan pada siklus 1 dan 2 dapat disimpulkan, sebagai berikut:
Ø Dengan banyaknya disajikan cerita, pemahaman siswa bertambah terhadap materi yang disajikan.
Ø Alat peraga berupa teks cerita anak cukup membantu.
Ø Pemberian contoh yang jelas sangat membantu siswa dalam memahami materi yang diajarkan.
Ø Penggunaan  metode Membaca dan Buzz Group dapat mengurangi kejenuhan siswa pada materi pembelajaran yang dilaksanakan.
B.  Saran Tindak Lanjut
Untuk menindaklanjuti kesimpulan diatas penulis perlu mengajukan saran dan tindak lanjut untuk Mata Pelajaran Bahasa Indonesia sebagai berikut:
Ø Pemilihan cerita anak harus tepat yang dapat menggairahkan siswa untuk mendengarkan dan menyimak.
Ø Guru harus dapat memberi contoh dalam menyampaikan materi yang jelas
Ø Metode yang dapat digunakan yaitu: Cermah, Tanya Jawab, Penugasan, Demonstrasi, Buzz Group, Diskusi.
Inti dari saran tindak lanjut ini adalah, bahwa berdasarkan langkah-langkah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang telah dilakukan guru, maka temuan yang akan disampaikan untuk rekan sejawat adalah pergunakanlah metode yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan. Pergunakan pula metode yang tepat dan bervariasi dalam arti menggunakan lebih dari satu metode agar siswa tidak jenuh dan aktif  selama proses pembelajaran berlangsung, sehingga hasil yang dicapai maksimal.

DAFTAR PUSTAKA
Andayani, dkk. 2009. Pemantapan Kemampuan Profesional. Jakarta: Universitas Terbuka.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Latif, Abdul, dkk. 1997. Media Pengajaran. Cirebon: STAIN Sunan Gunung Jati.
N. K, Roestiyah. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Universitas Pendidikan Indonesia.
Oemar, H. 1982. Metode Belajar dan Kesulitan-Kesulitan Belajar. Bandung: Tarsito.
Purwanto, Ngalim. 2007. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Syamsuddin Makmun, Abin. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Winataputra, Udin S. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka.


[1] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2007.hal. 84
[2] N.K,Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, 2001. Hal. 24
[3] Muhammad Surya, Psikologi Pendidikan, PPB FIP IKIP, Bandung, 1995. Hal. 102
[4] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, PT Remaja Rosdakarya, Bandung. Hal. 43
[5] Abdul Latif, dkk, Media Pengajaran, STAIN Sunan Gunung Jati, Cirebon. Hal. 8.
[6] Oemar H Malik, Metode Belajar dan Kesulitan-Kesulitan Belajar, Tarsito, Bandung. Hal. 46

2 komentar:

  1. saya suka tulisan ini apakah anda mengizinkan saya untuk mengambil tulisan anda terima kasih banyak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebelum nya makasih udah suka ma tulisan-ku...silahkan

      Hapus